Selasa, 11 Desember 2018

GAYA BAHASA DALAM NASKAH DRAMA DUNIA SEOLAH-OLAH KARYA YOYO C. DURACHMAN (KAJIAN STILISTIKA)




1. Profil Penulis
Yoyo C. Durachman adalah staf pengajar dan aktifis drama yang lahir di Bandung, 21 September 1954. Ia adalah lulusan dari STSI Surakarta dengan gelarnya sebagai Sarjana Seni. Tidak kurang dari 30 pementasan telah dilakukan dengan kapasitas sebagai sutradara, pemain, penata pentas, konsultan dan pimpinan produksi. Dunia Seolah-olah adalah naskah drama yang ia tulis dan dibukukan bersama naskah drama lain milik Joko Kurnain, Benny Johanes, Adang Ismet, Arthur S. Nalan, dan Harris Sukristian.

2. Sinopsis
            Naskah drama Dunia Seolah-olah menceritakan penderitaan pejabat yang tengah menjalani kurungan penjara karena ketamakannya. Tokoh-tokohnya tidak diberi nama secara jelas, hanya jenis kelamin yang membedakannya. Tokoh Laki-laki I adalah gambaran pejabat yang KKN. Sedangkan Laki-laki II adalah orang yang membuat Laki-laki I menjadi orang terhormat, berkuasa, berpengaruh, kaya raya, tetapi sekaligus terpuruk, dihujat dan dianggap sampah. Keduanya berada dalam penderitaan batin karena merasa berdosa terhadap kemanusiaan. Laki-laki I merasa bahwa Laki-laki II telah memperdayainya, menyiksa dan merekayasa semua sehingga ia berhasrat ingin membunuhnya. Ia merasa bosan, menderita, dan terhina. Demikian juga yang dirasakan oleh Laki-laki II, ia merasa usahanya selama ini untuk membuat Laki-laki I berkuasa, kaya raya, menjadi orang terhormat tidak dihargai. Sebenarnya mereka sadar bahwa mereka adalah orang-orang yang serakah sehingga mereka terperosok dalam lubang ketidakberadaban.
Penderitaan Laki-laki I dalam penjara dicoba untuk diatasi dengan adanya adegan Perempuan I sebagai Ibu yang mengajaknya kembali ke masa kanak-kanak. Juga dengan kembalinya masa-masa bahagia dengan wanitanya yaitu Perempuan II. Namun, ia sadar kalau ia benci dangan perempuan II karena telah ikut andil membuatnya menjadi pesakitan.
Akhirnya, Laki-laki I menyerah dengan keadaan, ingin gantung diri saja agar penderitaannya berakhir, tapi talinya terputus. Kehidupan belum berakhir, penderitaan masih diperpanjang. Semakin lama, tubuh mereka semakin ringkih. Mereka mengisi kehidupan dengan keseolah-olahan yang mereka miliki. Capek? Buatlah seolah-olah tidak capek. Haus? Buatlah seolah-olah tidak haus. Jauh? Buatlah seolah-olah dekat. Ahirnya, mereka tidak dapat lagi membuat dunia seolah-olah lagi.
3. Kajian       
Drama berbeda dengan prosa cerita dan puisi karena dimaksudkan untuk di pentaskan. Pembaca yang membaca teks drama tanpa menyaksikan pementasannya mau tidak mau membayangkan jalur peristiwa di atas panggung (Jan van Luxemburg, 1992:158). Drama dibedakan dengan prosa atas dasar pertimbangan cara-cara penulisan naskah dan penampilan isi. Seperti diketahui, drama pada umumnya diawali dengan prolog, pembagian atas babak cerita, dan epilog. Drama disajikan dengan menyebutkan para pelaku dan para pemeran lain pada awal dialog dan cerita (Nyoman Kutha Ratna, 2008: 368). Menurut H. G. Tarigan (1984:74) unsur-unsur drama meliputi alur, penokohan, dialog, dan aneka sarana kesatraan dan kedramaan.
Sebagai drama tulis analisis stilistika drama sama dengan cerpen dan novel. Drama juga terdiri atas cerita, bagaimana plot disusun. Perbedaannya, cerpen dan novel hanya memerlukan proses pembacaan, sedangkan drama harus dipentaskan. Gaya bahasa, baik intensitas pemakaiannya maupun fungsi dan kedudukannya dalam struktur totalitas karya berbeda sesuai dengan genre sastra (Nyoman Kutha Ratna, 2008: 62). Kajian ini hanya akan mengerucut pada gaya bahasa yang digunakan dalam naskah drama Dunia Seolah-olah karya Yoyo C. Durachman.
Gaya bahasa menurut Gorys Keraf (2004) dibedakan ke dalam empat kategori: (i) gaya bahasa berdasarkan pilihan katanya, gaya bahasa dibedakan menjadi gaya bahasa resmi, gaya bahasa tak resmi, dan gaya bahasa percakapan; (ii) gaya bahasa berdasarkan nadanya, gaya bahasa dibagi menjadi tiga, yaitu gaya sederhana, gaya mulia dan bertenaga, dan gaya menengah; (iii) gaya bahasa berdasarkan struktur kalimatnya, gaya bahasa dibagi menjadi lima, yaitu klimaks, antiklimaks, paralelisme, antitesis, dan repetisi; (iv) gaya bahasa berdasarkan langsung tidaknya makna, terdapat gaya bahasa retoris dan gaya bahasa kiasan.
Berdasarkan pilihan katanya, gaya bahasa pada naskah drama Dunia Seolah-olah masuk dalam gaya bahasa percakapan. Pilihan kata yang digunakan berupa kata-kata populer atau kata-kata percakapan. Kalimat-kalimatnya singkat dan bersifat fragmenter, kalimat-kalimat terdengar seolah-olah tidak terpisahkan oleh perhentian-perhentian final, seakan disambung terus-menerus.
“LAKI-LAKI II            : (MEMOTONG) Pak Dalang, saya bisanya kok banyak banget.
DALANG                    : Itu tandanya kau orang hebat.
LAKI-LAKI II              : Ah, yang benar… hebat apanya? Aku hanya menjadi begundal dia! (MENUNJUK KE LAKI-LAKI I YANG SEDANG TIDUR)
DALANG                    : Di situlah kamu hebatnya. Bersuara tanpa terdengar, hadir tanpa terlihat, bergerak tanpa melabrak ……”
Gaya bahasa berdasarkan nada didasarkan pada sugesti yang dipancarkan dari rangkaian kata-kata yang terdapat dalam sebuah wacana. Sering kali sugesti ini akan lebih nyata kalau diikuti dengan sugesti suara dari pembicara, bila sajian yang dihasilkan adalah bahasa lisan (Gorys Keraf, 2004:121). Berdasarkan nada, penulis mempergunakan ketiga jenis nada. Penulis mempergunakan semua kemungkinan, sesuai keadaan. Pilihan nada juga dapat ditentukan dari masalah yang dikemukakan. Tokoh Laki-laki I dan Laki-laki II cenderung menggunakan gaya sederhana. Tokoh Dalang banyak menggunakan gaya mulia dan bertenaga. Tokoh Perempuan I dan Perempuan II menggunakan gaya menengah.
LAKI-LAKI I   : Dengan apa lagi kita harus mengisi kehidupan yang masih tersisa ini?
LAKI-LAKI II  : Tentu saja dengan keseolah-olahan yang masih kita miliki.
LAKI-LAKI I   : Dengan tubuh kita yang sudah seperti ini, dengan ingatan kita yang sudah pikun, apakah kita masih mampu membuat seolah-olah?
LAKI-LAKI II  : Mampu. Buatlah seolah-olah kita masih hidup.
LAKI-LAKI I   : Tapi kita memang masih hidup.
LAKI-LAKI II  : Tidak. Kita sudah mati. Fikiran kita sudah beku, hati nurani kita sudah sirna, semangat kita sudah musnah.

Nampak pada kutipan dialog antara Laki-laki I dan Laki-laki II menggunakan gaya sederhana. Gaya ini dipakai untuk memberi instruksi atau perintah dari Laki-laki II kepada Laki-laki I untuk membuat dunia seolah-olah mereka.           
DALANG        : Kehidupan belum berakhir, kebebasan belum bisa dilaksanakan, dosa-dosa belum bisa diampunkan, perjalanan masih panjang. Nikmatilah kesepian, nikmatilah kebosanan, nikmatilah keputusasaan…karena kalian pantas untuk mendapatkan…(LAKI-LAKI I DAN II TERJAGA DARI TIDURNYA. MEREKA BEREBUT TEMPAT TIDUR. TEMPAT TIDUR ITU DIBAGI DUA. MEREKAPUN MENERUSKAN TIDURNYA DAN BERMIMPI YANG SEBENAR-BENARNYA MIMPI).
DALANG        : Bangun, bangunlah laki-laki malang mimpimu telah berakhir, perjalananmu masih panjang, mentari siang masih mau menonton kisahmu yang lebih kelam. (LAKI-LAKI I DAN II SERENTAK BANGUN. MEREKA MENDAPATKAN TUBUHNYA SEMAKIN RINGKIH).
Pada kutipan dialog di atas, tokoh Dalang menggunakan gaya mulia dan bertenaga. Hal ini digunakan untuk menggerakkan tokoh-tokoh lain, yaitu Laki-laki I dan Laki-laki II. Dalang dalam naskah drama ini bertugas untuk mengatur jalannya cerita.
PEREMPUAN II   : Kaget ya melihat aku?
LAKI-LAKI I         : Nyi Mas…Nyi Mas Pelepasbirahiwati jungjunganku. Aku dengar kau sudah pergi ke negeri sebrang. Aku dengar kau sudah kawin lagi dengan seorang pemuda di sana.
PEREMPUAN II   : Ya, benar. Tapi aku tetap selalu merindukanmu. Aku kangen dengan suaramu yang merdu itu…
LAKI-LAKI I         : Ah, aku bernyanyi hanya untuk mengalihkan perhatian saja. Bukan untuk menyaingi Broery Pesolima.
PEREMPUAN II   : Aku tidak perduli apa motivasimu menyanyi. Aku tetap terkenang denganmu alunan suaramu yang merdu, dengan candamu, dengan kepolosanmu.
Dari kutipan dialog di atas, gaya menengah dapat dilihat dari nada Perempuan II. Gaya ini diarahkan kepada usaha untuk menimbulkan suasana senang dan damai. Perempuan II mencoba membuat suasana hati Laki-laki I menjadi senang. Perempuan II menggunakan kata-kata yang mebuat Laki-laki I menjadi terhibur dan tersanjung.
Berdasarkan struktur kalimatnya, naskah drama Dunia Seolah-olah dijumpai adanya repetisi. Repetisi adalah perulangan bunyi, suku kata, kata atau bagian kalimat yang dianggap penting untuk memberi tekanan dalam sebuah konteks yang sesuai (Gorys Keraf, 2004:127).
LAKI-LAKI I   : Tapi itu slogan-slogan dulu. Kini aku terjepit kedalam dunia tidak bermakna; katanya aku KKN, katanya aku melanggar HAM, katanya aku refresif, katanya aku berlaku tidak demokratis, katanya aku sayang anak dengan mengorbankan rakyat banyak, katanya aku berlagak bagai seorang raja, katanya aku suka menerima suap, katanya aku suka dibantu paranormal, katanya aku ingin melanggengkan kekuasaan, katanya aku tukang membabat hutan, katanya aku harus diseret ke pengadilan, …….tapi katanya ada yang membelaku di luar sana… apa ia….?.......
Repetisi pada kutipan dialog diatas merupakan cara untuk menekankan makna dan kesan emotif. Laki-laki I merasa dirinya banyak yang mencemooh dan membencinya, hingga semua sifat buruk seakan-akan ada pada dirinya.
Berdasarkan langsung tidaknya makna, terdapat gaya bahasa retoris dan kiasan. Gaya bahasa retoris yaitu penyimpangan dari konstruksi biasa untuk mencapai efek teretentu (Gorys Keraf, 2004:129). Dalam naskah drama Dunia Seolah-olah dapat dijumpai gaya bahasa retoris berupa apofasis atau preterisio, elipsis, dan hiperbol.

PEREMPUAN I          : Apa maksudmu: “Aku tidak akan bisa jadi begini?” Kau telah begitu sangat berkuasa, kaya raya dan kemudian terpuruk di tempat ini? Itu maksudmu?
……………………………………………………………………………………………………..
LAKI-LAKI I   : Tetapi kau tidak rindu dengan uangku, kan? Empat puluh milyar untuk bekal hidup di negeri seberang sana lebih dari cukup bukan?
Pada kutipan diatas dapat dijumpai apofasis atau preterisio. Penulis mencoba menegaskan sesuatu, tetapi tampaknya menyangkal. Penulis ingin menegaskan bahwa Laki-laki I telah terpuruk, kalah dan dipenjara, tetapi terlebih dahulu disangkal dengan kata berkuasa dan kaya raya. Pada kutipan dialog kedua, Laki-laki I sebenarnya ingin menegaskan bahwa ia telah membekali uang senilai empat puluh milyar. Penulis berpura-pura membiarkan sesuatu berlalu, tetapi sebenarnya ia menekankan hal itu. Berpura-pura melindungi atau menyembunyikan sesuatu, tetapi sebenarnya memamerkannya.
LAKI-LAKI II: (TERTAWA SINIS) Kekebalan sangat dibutuhkan dalam menghadapi situasi semacam ini. Ngomong-ngomong Tuan ingin menu macam apa untuk sarapan pagi ini. Stek la tikus, sambal goreng cecunguk dengan saus rasa kelek atau…
……………….
LAKI-LAKI II: Tapi malah saya diperlakukan tidak manusiawi Pak Dalang. Pak Dalang sendiri kalau dapat peye malah ngajak orang lain. Pak Dalang, saya dipenjara, tidak diberi makan, diputus hubungan dengan dunia luar, tidak boleh tidur dengan istri saya dan……
Kutipan diatas mengandung elipsis. Elipsis adalah suatu gaya yang berwujud menghilangkan suatu unsur kalimat yang dengan mudah dapat diisi atau ditafsirkan sendiri oleh pembaca atau pendengar, sehingga struktur gramatikal atau kalimatnya memenuhi pola yang berlaku (Gorys Keraf, 2004:132). Dialog pertama dan kedua, di bagian akhir kalimat ada kata-kata yang dihilangkan, tetapi dapat ditafsirkan oleh pembaca. Misalnya, Stek la tikus, sambal goreng cecunguk dengan rasa kelek, atau sate lidah buaya darat; Pak Dalang, saya dipenjara, tidak diberi makan, diputus hubungan dengan dunia luar, tidak boleh tidur dengan istri saya dan tidak bisa bermain dengan anak saya. Penafsiran kata-kata yang dihilangkan ini sangat tergantung dari pembaca atau pendengarnya.
DALANG        : Saya telah mensurveynya. Percayalah, masyarakat seratus persen mendukungmu, mereka berada di belakangmu, bahkan mereka berani mati untukmu.
LAKI-LAKI II: Ya, benar. Masyarakat berada di belakangmu. Kau akan dicatat dengan tinta emas dalam sejarah bangsa kita sebagai tokoh yang membela kepentingan masyarakat banyak.
Kutipan di atas mengandung hiperbol yaitu gaya bahasa yang mengandung suatu pernyataan yang berlebihan, dengan membesar-besarkan sesuatu hal (Gorys Keraf, 2004:135). Dialog tokoh Dalang dan Laki-laki II terlalu melebih-lebihkan. Mereka mencoba menghibur Laki-laki I yang merasa putus asa dengan hidupnya. Mereka menyemangati Laki-laki I dengan mengatakan bahwa banyak orang yang masih mendukungnya.
            Selain gaya bahasa retoris, dalam naskah drama Dunia Seolah-olah juga terdapat gaya bahasa kiasan. Gaya bahasa kiasan yang ada pada naskah drama Dunia Seolah-olah adalah persamaan atau simile, metafora, personifikasi, eponim, ironi, dan sarkasme.
LAKI-LAKI I   : Tetapi kenapa aku melihatmu seperti Ibu?
Simile adalah perbandingan yang bersifat eksplisit, langsung menyatakan sesuatu sama dengan hal yang lain (Gorys Keraf, 2004:138). Dalam dialog di atas, terdapat kata seperti, yang menandai bahwa kalimat tersebut mengandung persamaan. Laki-laki I menganggap Perempuan II sama seperti Ibu.
LAKI-LAKI I   : Cukup seperti biasa saja. Gulai khayalanmu ditambah sedikit rasa pedas umpatanmu.
LAKI-LAKI II  : Baiklah Tuan, saya akan segera mempersiapkannya. (LAKI-LAKI II MEMPERSIAPKAN SEGALA KEPERLUAN UNTUK SARAPAN PAGI. KEMUDIAN MEREKA MAKAN DENGAN NIKMAT DAN RAKUSNYA. SEMUA MENU MAKANAN YANG TERHIDANG DISANTAPNYA DENGAN LAHAP).
LAKI-LAKI I   I: Sangat nikmat menyantap daging para buruh dan minum keringat petani.
…………………………………………………………………………………………………......
LAKI-LAKI I   : Wuaaaaahhhhh. Boro-boro. Mereka malah rame-rame cuci tangan, menyelamatkan diri, bahkan kini ikut-ikutan menghujatku… sialan…… sompret…… bedebah……
Kutipan dialog di atas mengandung metafora. Metafora adalah analogi yang membandingkan dua hal secara langsung dalam bentuk yang singkat (Gorys Keraf, 2004:139). Metafor yang digunakan dalam naskah drama ini cukup banyak dibandingkan dengan jenis yang lain. Penulis banyak menggunakan ungkapan-ungkapan metaforis yang harus ditemukan sendiri maknanya oleh para pembaca atau pendengar.
LAKI-LAKI I   : Makanan tadi membuat kita tak berdaya.
……………………………………………………………………………………………………..
LAKI-LAKI II  :Itulah persoalannya. Aku merasa terjebak oleh diriku sendiri. Fikiran-fikiranku telah menghukumku, tindakan-tindakanku telah menghukumku, ambisi-ambisiku telah menghukumku, omongan-omonganku telah menghukumku…
Personifikasi adalah gaya bahasa kiasan yang menggambarkan benda-benda mati atau barang-barang yang tidak bernyawa seolah-olah memiliki sifat-sifat kemanusiaan (Gorys Keraf, 2004:140). Pada kutipan dialog pertama, makanan digambarkan memiliki sifat manusia yang membuat tak berdaya. Sedangkan pada dialog kedua fikiran, tindakan, dan omongan yang tak bernyawa digambarkan dapat menghukum seperti manusia.
LAKI-LAKI I   :Ah, aku bernyanyi hanya untuk mengalihkan perhatian saja. Bukan untuk menyaingi Broery Pesolima.
Eponim adalah suatu gaya dimana seseorang yang namanya begitu sering dihubungkan dengan sifat tertentu, sehingga nama itu dipakai untuk menyatakan sifat itu (Gorys Keraf, 2004:141).  Broery Pesolima adalah penyanyi yang memiliki suara merdu dan jernih dan sangat terkenal di era 90-an. Hal ini dapat dihubungkan dengan setting waktu. Naskah drama Dunia Seolah-olah berlatarkan tahun 90-an dimana pada era tersebut banyak pejabat yang melakukan KKN.
LAKI-LAKI II  : (MEMOTONG) Pak Dalang, saya bisanya kok banyak banget.
DALANG        : Itu tandanya kau orang hebat.
Ironi atau sindiran ialah suatu acuan yang ingin mengatakan sesuatu dengan makna atau maksud berlainan dari apa yang terkandung dalam rangkaian kata-katanya (Gorys Keraf, 2004:143) . Rangkaian kata-kata yang dipergunakan mengingkari maksud yang sebenarnya.

LAKI-LAKI I   : Padahal kita Cuma maling ayam dan jemuran milik tetangga.
LAKI-LAKI II  :buatlah seolah-olah kita penjahat politik, pembobol bank dan tokoh subversif.
LAKI-LAKI I   : Woe… hebat! Apakah kita aman disini?
……………………………………………………………………………………………………...
PEREMPUAN I: Diam kau parasit!!!
……………………………………………………………………………………………………...
LAKI-LAKI II  : Jangan percaya kepada apa yang diomongkannya tadi. Itu hanya isyu, hasutan, isapan jempol. Dia seorang provokator. Anda sendiri tahu, penyebar isyu itu orang yang tidak bermoral.
Sarkasme adalah suatu acuan yang mengandung kepahitan dan celaan yang getir. Gaya ini akan selalu menyakiti hati dan kurang enak didengar (Gorys Keraf, 2004:143). Kalimat yang mengandung sindiran cukup banyak ditemukan dalam naskah drama ini. Naskah ini merupakan sindiran dari penulis terhadap orang-orang yang melakukan praktik KKN. Namun, sindiran dibungkus dalam balutan kata-kata yang tidak secara langsung, tetapi mengena akan makna yang terkandung di dalamnya. Pilihan kata yang dipakai membawa pemahaman yang lebih baik tentang bagaimana bahasa bisa dikreasikan dan didayakan sedemikian rupa sehingga membuat komunikasi bahasa menjadi lebih segar dan efektif.

4. Simpulan
Dari kajian diatas dapat disimpulkan bahwa penulis menggunakan gaya bahasa yang beragam. Berdasarkan pilihan katanya, naskah drama tersebut menggunakan gaya bahasa percakapan. Berdasarkan nadanya, gaya bahasa yang dipilih menggunakan ketiga jenis gaya yaitu gaya sederhana, gaya mulia dan bertenaga, dan gaya menengah. Berdasarkan struktur kalimatnya, dijumpai repetisi. Berdasarkan langsung tidaknya makna, terdapat gaya bahasa retoris dan kiasan.  Gaya bahasa retoris berupa apofasis atau preterisio, elipsis, dan hiperbol. Gaya bahasa kiasan berupa simile, metafora, personifikasi, eponim, ironi, dan sarkasme.
Beragamnya gaya bahasa yang dipakai penulis bertujuan agar naskah drama dapat mencapai efek estetis. Pendayagunaan gaya bahasa dimaksudkan untuk menegaskan, mengintensifkan, menghidupkan, dan mengonkretkan penuturan.
DAFTAR PUSTAKA

Gorys Keraf. 2004. Diksi dan Gaya Bahasa. Jakarta: PT Gramedia.
Luxemburg, Jan van. 1992. Pengantar Ilmu Sastra. Jakarta: PT Gramedia.
Nurgiyantoro, Burhan. 2017. Stilistika. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Ratna, Nyoman Kutha. 2008. Stilistika Kajian Puitika Bahasa, Sastra, dan Budaya. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Sukristian, Harris. 2007. Kumpulan Naskah Drama. Bandung: Kelir.
Tarigan, Henry Guntur. 1984. Prinsip-Prinsip Dasar Sastra. Bandung: Angkasa.

Kajian Semiotik pada Cerpen Cerita Kedasih Karya R. Giryadi



Cerita Kedasih adalah cerpen karya R Giryadi yang mengisahkan seorang ibu bernama Kedasih dengan anak perempuannya bernama Mimin. Cerpen ini sangat menarik. Diceritakan Kedasih dan Mimin hidup menderita di rumah mewah Tuan dan Nyonyanya. Setiap hari, Kedasih dan Mimin bekerja mengurus dan melayani Tuan, Nyonya, dan anak-anaknya. Kedasih selalu mangalami pelecehan seksual dan penyiksaan fisik oleh Tuannya ketika Nyonya pergi. Di balik kehidupan mereka yang menderita, mereka adalah ibu dan anak yang saling menyayangi. Kedasih sering bercerita tentang burung-burung yang hidup bebas untuk menghibur Mimin yang hidup terkurung jauh dari kehidupan luar.
Studi sastra bersifat semiotik adalah usaha untuk menganalisis sastra sebagai suatu sistem tanda-tanda dan menentukan konvensi-konvensi apa yang memungkinkan karya sastra mempunyai arti  (Pradopo, 2013: 142). Lebih jauh, Pradopo (2013: 120) menjelaskan ada tiga jenis tanda berdasarkan hubungan antara penanda dan pertandanya, yaitu ikon, indeks, dan simbol. Ikon adalah tanda yang menunjukkan adanya hubungan yang bersifat alamiah antara penanda dan petandanya. Indeks adalah tanda yang menunjukkan hubungan kausa/ (sebab-akibat) antara penanda dan petandanya. Sedangkan simbol adalah tanda yang menunjukkan bahwa tidak ada hubungan alamiah antara penanda dan petandanya, hubungannya bersifat arbitrer (semau-maunya).
Untuk dapat memahami ketiga tanda semiotik tersebut, harus dilakukan pembacaan secara heuristik dan hermeneutik. Pembacaan heuristik adalah pembacaan berdasarkan struktur bahasanya atau secara semiotik adalah berdasarkan konvensi sistem semiotik tingkat pertama. Pembacaan hermeneutik adalah pembacaan karya sastra berdasarkan sistem semiotik tingkat kedua atau berdasarkan konvensi sastranya. Pembacaan hermeneutik adalah pembacaan ulang (retroaktif) sesudah pembacaan heuristik dengan memberi konvensi sastranya (Pradopo, 2013: 142).
“Lewat jendela itulah, Mimin melihat, betapa di luar sana, anak-anak sebayanya asyik bermain. Sementara ia harus bekerja membanting tulang, bersama emaknya. Ia hanya bisa melihat dari balik jendela dengan tatapan mata berbinar.”
Kata jendela dalam kutipan di atas adalah ikon yang dapat ditemukan dalam cerpen Cerita Kedasih. Secara heuristik jendela mempunyai makna lubang yang dapat diberi tutup dan berfungsi sebagai tempat keluar masuk udara. Secara hermeneutik jendela mempunyai makna bahwa ia ingin keluar dari ruangan yang selama ini mengurungnya. Ia ingin bermain seperti anak-anak sebayanya. Ia ingin memiliki kehidupan yang menyenangkan, bukan bekerja keras membanting tulang seperti yang selama ini ia rasakan.
“Kedasih sering menjauhkan mainan milik anak Tuannya dari jangkauan Mimin. Kedasih memilih menghibur anaknya dengan dongeng. Kedasih sering bercerita tentang burung. Burung yang hidup bebas di alam raya.”
“Di luar sana burung kedasih berkicau berkali-kali. Hiii-tii-ti-ti, tir-ri-ri-ri, hiii-tii-ti-ti, tir-ri-ri-ri-ri. Suara burung itu seperti berkecamuk dalam hati Kedasih hingga larut malam. Kedasih memandang anaknya yang tak berdosa itu dengan penuh kasih sayang.”
“Macan itu sudah aku habisi. Demi anakku.” Batin kedasih. Dadanya berdegup kencang”
Kutipan di atas mengandung indeks yang dapat dipakai untuk memahami perwatakan tokoh. Secara heuristik Kedasih adalah seorang ibu yang suka mendongeng. Secara hermeneutik Kedasih suka bercerita/mendongeng karena ingin anaknya terhibur dengan cerita-ceritanya. Ia tidak bisa memberikan hiburan yang lain karena kondisinya yang terkurung dan tersiksa di rumah Tuannya. Kedasih amat menyayangi anaknya itu walaupun tidak diungkapkan secara tersurat. Bahkan, ia berani menghabisi nyawa Tuannya demi anaknya agar bisa terbebas dari penderitaan di rumah Tuannya.
“Di matanya terbayang, bagaimana ia menyelamatkan anaknya itu dari laki-laki pemabuk yang telah mebuatnya terpuruk. Laki-laki yang pernah memaksanya mencintai. Laki-laki yang memaksa membuahi spermanya. Dan kemudian laki-laki itu pergi, karena orangtuanya tak merestui. Kedasih pun juga memilih minggat untuk menyelamatkan anaknya. Dan membuang sial bagi keluarganya.

Tetapi apa daya, lepas dari buaya darat, terperangkap di kandang macan. Di kandang macan ini ia menjadi santapan Tuannya, bila Nyonya pergi, hampir saban malam.”
Kutipan di atas mengandung simbol. Secara heuristik kata buaya darat bermakna binatang melata berdarah dingin, bertubuh besar, berkulit keras yang hidup di darat. Secara hermeneutik buaya darat adalah laki-laki yang menggemari banyak perempuan. Kandang macan secara heuristik bermakna bangunan tempat tinggal macan/harimau. Secara hermeneutik kandang macan bermakna tempat yang berbahaya. Lebih jauh, kutipan di atas  dapat dimaknai penderitaan bertubi-tubi yang dialami tokoh Kedasih. Setelah ia pergi dari laki-laki pemabuk yang tak dicintainya, ia justru terperangkap di rumah Tuan yang berperangai buruk yaitu suka menyiksa dan melakukan pelecehan seksual kepada dirinya.
Dalam cerpen Cerita Kedasih, ikon, indeks, dan simbol hadir bersama dan sulit untuk dipisahkan. Ketiganya memiliki peran yang sangat penting untuk menggambarkan dan memperjelas cerita. Ikon mempunyai kekuatan ‘perayu’. Indeks dipakai untuk memahami perwatakan tokoh. Sedangkan simbol berfungsi untuk penalaran, pemikiran, dan pemerasaan. Adanya ikon, indeks, dan simbol membuat pembaca lebih menikmati isi dari cerpen Cerita Kedasih ini.

DAFTAR PUSTAKA
Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa. 2016. Kamus Besar bahasa Indonesia Edisi V [Aplikasi]. (18 Mei 2018)
Diana, Ani. 2016. Kajian Semiotik pada Kumpulan Cerpen Sekuntum Mawar di Depan Pintu Karya M. Arman A.Z. Jurnal Pesona Volume 2 No. 1. http://ejournal.stkipmpringsewu-lpg.ac.id/index.php/pesona. (16 Mei 2018)
Giryadi, R. 2016. Cerita Kedasih.
Pradopo, Rachmat Djoko. 2013. Beberapa Teori Sastra, Metode Kritik, dan Penerapannya. Pustaka Pelajar: Yogyakarta.

Kebebasan Berekspresi Soni Farid Maulana dalam Puisi “Memburu Capung”



 Definisi puisi yang terikat oleh bait, baris, rima dan irama nampaknya tidak sesuai dengan puisi “Memburu Capung” karya Soni Farid Maulana ini. Pasalnya, dari bentuk visual seperti tipografi dan susunan bait, tidak mengarah kebentuk puisi sesuai definisi di atas. Puisi ini terdiri dari satu bait dengan 16 baris. Bila hanya dilihat dari bentuk lahiriahnya, sulit membedakan apakah ini termasuk puisi atau prosa. Dapat dilihat pada potongan puisinya berikut ini.
MEMBURU CAPUNG
-untuk Kautsar Muhammad Attar

Jantan atau betina tidak penting benar, capung itu terbang rendah diburu
anak-anak sambil lari dan tertawa riang di lapangan terbuka. Rumput ilalang
bergoyang dimainkan angin lalu. Aku duduk di atas hamparan rumput
pinggir lapang, diseret kenangan warna arang. Apakah dulu aku pernah lari
seperti mereka memburu capung? Yang aku ingat hanya wajah ibu, dengan
alir air mata di pipinya.

Nampak bahwa dalam puisi ini, pembaitan tidak diperhatikan. Tiap baris sajaknya terdiri dari bagian-bagian yang susunannya berbeda. Baris puisi berupa kalimat-kalimat yang masih memperhatikan tanda baca. Puisi ini tidak banyak menggunakan penyimpangan-penyimpangan dari tata bahasa normatif. Puisi ini juga masih terlihat cukup banyak kata berimbuhan yang tidak dihilangkan seperti diburu, tertawa, memburu, bertengkar, melihat, semacam, dan dibaca. Lantas apakah ini masih dapat disebut sebagai puisi?
Dalam menulis puisi ini, Soni Farid Maulana menggunakan kebebasannya dalam berekspresi. Ia merekam dan menginterpretasikan pengalamannya yang penting, lalu digubah dalam wujud yang paling berkesan. Ia tidak mempedulikan ikatan-ikatan formal seperti puisi pada umumnya. Ia menulis dan mengombinasikan sarana-sarana kepuitisan yang disukainya asal sarana yang dipilih dapat mengekspresikan jiwanya. Ia menulis puisi berdasarkan hakikatnya, bukan berdasarkan bentuk formalnya. Puisi ini terikat oleh hakikatnya sendiri. Maka biarlah pembaca yang mendefinisikan kebebasan ini.

ANALISIS KOHESI DAN KOHERENSI PADA WACANA BERITA POLITIK


BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Wacana merupakan tataran yang paling besar dalam hierarki kebahasaan. Sebagai tataran terbesar dalam hierarki kebahasaan, wacana tidak merupakan susunan kalimat secara acak, tetapi merupakan satuan bahasa, baik lisan maupun tulis. Wacana yang baik adalah wacana yang harus memperhatikan hubungan antarkalimat. Hal ini harus selalu diperhatikan untuk memelihara keterkaitan dan keruntutan antarkalimat. Hubungan antar kalimat dalam sebuah wacana tersusun berkesinambungan dan membentuk suatu kepaduan. Oleh karena itu, kepaduan makna dan kerapian bentuk pada wacana merupakan salah satu faktor yang penting dalam rangka meningkatkan tingkat keterbacaan.
Wacana tulis hubungan antarkalimat harus selalu diperhatikan untuk memelihara keterkaitan dan keruntutan antarkalimat. Keterkaitan dan kerapian bentuk dalam ilmu bahasa dinamakan kohesi dan koherensi. Kohesi dan koherensi mempunyai peran yaitu untuk memelihara keterkaitan antarkalimat, sehingga wacana menjadi padu, tidak hanya sekumpulan kalimat yang setiap kalimat mengandung pokok pembicaraan yang berbeda, melainkan satu unsur dalam teks yang harus menyatakan konsep ikatan.
Wacana dalam hal ini wacana berbentuk tertulis, menjadi bahan yang menarik untuk dikaji. Wacana-wacana yang berasal dari media seperti surat kabar, majalah, buku-buku teks, dokumen, prasasti, novel, cerpen, dan sebagainya dapat dikaji dari bentuk gramatikal, leksikal maupun dari segi konteks. Wacana-wacana tersebut mempunyai keunikan tersendiri sehingga menarik untuk dikaji.
Teknologi di bidang informasi dan komunikasi saat ini mengalami revolusi. Semakin berkembangnya sebuah teknologi selalu diikuti pembaharuan yang terus-menerus dan kemudian akan disusul dengan teknologi lainnya. Perkembangan tersebut seiring dengan meningkatnya kemudahan akses internet di setiap negara di dunia. Internet telah menjadi kebutuhan bagi manusia zaman digital. Jika dahulu kita dibiasakan menonton TV atau membaca koran untuk memperoleh informasi, sekarang gaya hidup semacam itu telah berubah. Media massa yang berupa media cetak pun mengalami revolusi. Saat ini, perusahaan media massa menggunakan laman dalam jaringan untuk mengunggah berita.


B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas penulis merumuskan masalah sebagai berikut.
1.      Alat-alat kohesi leksikal apa sajakah yang digunakan dalam wacana berita politik Kompas.com?
2.      Alat-alat kohesi gramatikal apa sajakah yang digunakan dalam wacana berita politik Kompas.com?
3.      Bagaimanakah hubungan makna atau koherensi dalam wacana berita politik Kompas.com?

C. Tujuan
Berdasarkan rumusan masalah di atas makalah ini memiliki tujuan sebagai berikut.
1.      Untuk mengetahui alat-alat kohesi leksikal yang digunakan dalam wacana berita politik Kompas.com.
2.      Untuk mengetahui alat-alat kohesi gramatikal yang digunakan dalam wacana berita politik Kompas.com.
3.      Untuk mengetahui hubungan makna atau koherensi pada wacana berita berita politik Kompas.com.

D. Metodologi Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif. Data dalam penelitian ini adalah berupa data tertulis yang berupa berita politik di laman Kompas.com berjudul Sinyal dari Romahurmuziy, Apakah Mahfud MD Cawapres Jokowi? Berita tersebut diakses pada tanggal 8 Agustus 2018. Penggalan wacana yang dijadikan data dalam penelitian ini adalah penggalan yang terdapat hubungan bentuk (kohesi) dan hubungan makna (koherensi).

E. Telaah Pustaka
Heny Indriastuti Riza Fauzi, Edy Suryanto, dan Kenfitria Diah Wijayanti dalam jurnalnya yang berjudul Analisis Bentuk Kohesi dan Koherensi Wacana Berita dalam Majalah Panjebar Semangat Sebagai Materi Pembelajaran Bahasa Jawa di SMP menyimpulkan kohesi wacana berita dalam majalah Panyebar Semangat berbentuk gramatikal dan leksikal. Unsur konjugasi mendominasi dalam kohesi gramatikal dibandingkan dengan unsur pengacuan, substitusi, dan pelesapan; sedangkan unsur repetisi mendominasi dalam kohesi bentuk leksikal dibandingkan dengan unsur sinonimi, antonimi, kolokasi, hiponimi, dan ekuivalensi. Koherensi wacana berita dalam majalah Panyebar Semangat jenis hubungan sebab-akibat lebih dominan dibandingkan dengan jenis hubungan sarana-hasil, alasansebab, sarana-tujuan, latar-kesimpulan, syarat-hasil, parafrasis, amplikatif, aditif-waktu, indentifikasi, generik-spesifik, dan ibarat. Berbagai bentuk kohesi dan koherensi wacana berita dalam majalah Panyebar Semangat dinilai cocok dan layak dijadikan sebagai materi pembelajaran bahasa Jawa di SMP, baik dilihat dari aspek bahasa, budaya, filosofis, dan kurikuler.
Penelitian ini berbeda dari penelitian yang telah disebutkan. Dalam penelitian ini penulis membahas kohesi dan koherensi pada wacana berita Kompas.com yang mengkaji kohesi gramatikal dan leksikal serta koherensi atau keterpaduan wacana.


BAB II
KAJIAN TEORI
A.    Pengertian Wacana
Istilah “wacana” berasal dari bahasa Sansekerta wac/wak/vak, artinya ‘berkata’, ‘berucap’ (Douglas dalam Mulyana, 2005:3). Kata wacana dapat diartikan sebagai ‘perkataan’ atau ‘tuturan’. HG Tarigan dalam Mulyana (2005:6) mengemukakan bahwa wacana adalah satuan bahasa yang paling lengkap, lebih tinggi dari klausa dan kalimat, memiliki kohesi dan kherensi yang baik, mempunyai awal dan akhir yang jelas, berkesinambungan, dan dapat disampaikan secara lisan atau tertulis.
Dalam satuan/hierarki kebahasaaan, kedudukan wacana berada pada posisi paling besar dan paling tinggi.  Hal ini karena wacana sebagai satuan gramatikal dan sekaligus objek kajian linguistik mengandung semua unsur kebahasaan yang diperlukan dalam segala bentuk komunikasi. Tiap kajian wacana akan selalu mengaitkan unsur-unsur satuan kebahasaan yang ada di bawahnya seperti fonem, morfem, frasa, klausa, atau kalimat. Satuan kebahasaan yang ada di bawah akan tercakup dan menjadi bagian dari satuan bahasa yang berbeda di atasnya. Demikian seterusnya, hingga mencapai unit ‘wacana’ sebagai satuan kebahasaan yang paling besar.

B.     Kohesi
Kohesi adalah hubungan antarkalimat dalam sebuah wacana baik dalam strata gramatikal maupun dalam strata leksiakal tertentu (Gutwinsky dalam Tarigan, 2009:92). Sejalan dengan Mulyana (2005:26) yang menyebutkan kohesi dalam wacana diartikan sebagai kepaduan bentuk yang secara struktural membentuk ikatan sintaktikal.
Halliday dan Hasan dalam Tarigan (2009: 3) mengelompokkan sarana-sarana kohesif dalam lima kategori yaitu pronomina (kata ganti), substitusi (penggantian), elipsis, konjungsi, dan leksikal. Dengan kata lain kohesi wacana terbagi ke dalam dua aspek, yaitu kohesi gramatikal dan kohesi leksikal. Kohesi gramatikal terdiri dari pronomina (kata ganti), substitusi (penggantian), elipsis, dan konjungsi. Sedangkan kohesi leksikal adalah repetisi (pengulangan), sinonim, antonim, hiponim, kolokasi, dan ekuivalensi.
1.      Kohesi Gramatikal
Macam-macam kohesi gramatikal adalah sebagai berikut.
a.       Pronomina (kata ganti)
Pronomina atau kata ganti terdiri atas kata ganti diri, kata ganti penunjuk, dan lain-lain.
1)      Kata ganti diri misalnya saya, aku, kita, kami; engkau, kamu, kau, kalian, anda; dia, mereka.
2)      Kata ganti penunjuk adalah ini, itu, sini, situ, sana, di sini, di situ, di sana, ke sini, ke situ, kesana. Kata ganti penunjuk terbagi atas dua jenis, yaitu penunjukkan eksoforik (di luar teks) dan penunjukkan endoforik (di dalam teks).
3)      Kata ganti empunya meliputi –ku, -mu, -nya, kami, kamu, kalian, mereka. Bentuk-bentuk –ku, -mu, -nya disebut juga bentuk enklitis.
4)      Kata ganti penanya meliputi apa, siapa, mana, kapan, mengapa, bagaimana, di mana.
5)      Kata ganti penghubung adalah yang.
6)      Kata ganti tak tentu misalnya siapa-siapa, masing-masing, seuatu, seseorang, para.
b.      Substitusi (penggantian)
Substitusi adalah proses atau hasil penggantian unsur bahasa oleh unsur lain dalam satuan yang lebih besar untuk memperoleh unsur-unsur pembeda atau untuk menjelaskan suatu struktur tertentu (Kridalaksana dalam Tarigan, 2009:96). Proses substitusi merupakan hubungan gramatikal dan lebih bersifat hubungan kata dan makna. Substitusi dapat bersifat nominal, verbal, klausal, atau campuran; misalnya satu, sama, seperti itu, sedemikian rupa, demikian, begitu, melakukan hal yang sama.
c.       Elipsis (penghilangan/pelesapan)
Elipsis adalah peniadaan kata atau satuan lain yang wujud asalnya dapat diramalkan dari konteks bahasa atau konteks luar bahasa (Kridalaksana dalam Tarigan, 2009:97). Elipsis dapat pula dikatakan penggantian nol (zero); sesuatu yang ada tetapi tidak diucapkan atau tidak dituliskan. Hal ini dilakukan demi kepraktisan. Elipsis dapat dibedakan atas elipsis nominal, elipsis verbal, elipsis klausal.
d.      Konjungsi (kata sambung)
Konjungsi adalah bentuk atau satuan kebahasaan yang berfungsi sebagai penyambung, perangkai, atau penghubung antara kata dengan kata, frasa dengan frasa, klausa-dengan klausa, kalimat-dengan kalimat, dan seterusnya. Konjungsi disebut juga sebagai sarana perangkai unsur-unsur formal.
Beberapa jenis konjungsi antara lain
1)      Konjungsi adversatif   : tetapi, namun
2)      Konjungsi klausal                    : sebab, karena
3)      Konjungsi koordinatif : dan, atau, tetapi
4)      Konjungsi korelatif     : entah/entah, baik/maupun
5)      Konjungsi subordinatif           : meskipun, kalau, bahwa
6)      Konjungsi temporal     : sebelum, sesudah
2. Kohesi Leksikal
Kohesi leksikal diperoleh dengan cara memilih kosakata yang serasi. Ada beberapa cara untuk mencapai aspek leksikal kohesi, antara lain:
a.       Pengulangan (repetisi) kata yang sama       : pemuda-pemuda
b.      Sinonim      : pahlawan - pejuang
c.       Antonim     : putra - putri
d.      Hiponim      : angkutan darat – kereta api, bus
e.       Kolokasi     : buku, koran, majalah – media massa
f.       Ekuivalensi : belajar, mengajar, pelajar, pengajar, pengajaran
Tujuan digunakannya aspek-aspek leksikal itu diantaranya ialah untuk mendapatkan efek intensitas makna bahasa, kejelasan informasi, dan keindahan bahasa lainnya.

C.    Koherensi
Istilah koherensi mengandung makna ‘pertalian’. Dalam konsep kewacanaan, berarti pertalian makna atau isi kalimat (HG Tarigan dalam Mulyana, 2005:30). Wacana yang koheren memiliki ciri-ciri: susunannya teratur, dan amanatnya terjalin rapi, sehingga mudah diinterpretasikan (samitri dalam mulyana, 2005:30).
Dalam struktur wacana, aspek koherensi sangat diperlukan untuk menata pertalian batin antara proposisi yang satu dengan lainnya untuk mendapatkan keutuhan. Keutuhan yang koheren tersebut dijabarkan oleh adanya hubungan-hubungan makna yang terjadi antar unsur (bagian) secara semantis.
Bentuk sarana koherensi menurut Frank J. D’Angelo dalam Tarigan (2009:101) mencakup: penambahan, adisi; seri, rentetan; pronomina, pengulangan, repetisi; padan kata, sinonim; keseluruhan, bagian; kelas, anggota; penekanan, komparasi, perbandingan; kontras, pertentangan; simpulan, hasil; contoh, misal; kesejajaran, paralel; lokasi, tempat; dan kala, waktu.
M. Ramlan dalam Mulyana (2005:32) merinci hubungan antar bagian dalam wacana yang bersifat koheren, yakni hubungan penjumlahan, hubungan perturutan, hubungan perlawanan, hubungan lebih, hubungan sebab-akibat, hubungan waktu, hubungan syarat, hubungan cara, hubungan kegunaan, hubungan penjelasan.
Harimurti Kridalaksana dalam Mulyana (2005:32) mengemukakan bahwa hubungan koherensi wacana sebenarnya adalah ‘hubungan semantis’. Artinya hubungan ini terjadi antar proposisi. Secara struktural, hubungan ini dipresentasikan oleh peraturan secara semantis antara kalimat (bagian) yang satu dengan kalimat yang lainnya. Hubungan maknawi ini kadang ditandai dengan alat  leksikal, tetapi kadang tanpa penanda. Hubungan semantis yang dimaksud antara lain:
1.      Hubungan sebab – akibat
Salah satu bagian kalimat menjawab pertanyaan: “Mengapa sampai terjadi begini?”, atau kalimat yang satu bermakna sebab dan kalimat lainnya menjadi akibat.
2.      Hubungan sarana – hasil
Salah satu bagian kalimat menjawab pertanyaan: “Mengapa hal ini dapat terjadi?”, dan hasil itu sudah tercapai.
3.      Hubungan alasan – sebab
Salah satu bagian kalimat menjawab pertanyaan: “Apa alasannya?”
4.      Hubungan sarana – tujuan
Salah satu bagian kalimat menjawab pertanyaan: “Apa yang harus dilakukan untuk mencapai tujuan itu?” berbeda dengan hubungan sarana – hasil, dalam  hubungan sarana – tujuan, belum tentu tujuan tersebut tercapai
5.      Hubungan latar – kesimpulan
Salah satu bagian kalimat menjawab pertanyaan: “Bukti apa yang menjadi dasar kesimpulan itu?”
6.      Hubungan kelonggaran – hasil
Salah satu bagian kalimat menyatakan kegagalan suatu usaha.
7.      Hubungan syarat – hasil
Salah satu bagian kalimat menjawab pertanyaan:”Apa yang harus dilakukan?” atau “Keadaan apa yang harus ditimbulkan untuk memperoleh hasil?”
8.      Hubungan perbandingan
Salah satu bagian kalimat menyatakan perbandingan dengan bagian kalimat yang lain.
9.      Hubungan parafrastis
Salah satu bagian kalimat mengungkapkan isi dari bagian kalimat lain dengan cara lain.
10.  Hubungan amplikatif
Salah satu bagian kalimat memperkuat atau memperjelas bagian kalimat lainnya.
11.  Hubungan aditif waktu (simultan dan beruntun)
12.  Hubungan aditif non waktu
13.  Hubungan identifikasi
Salah satu bagian kalimat menjadi penjelas identifikasi dari sesuatu istilah yang ada di bagian kalimat lainnya.
14.  Hubungan generik – spesifik
15.  Hubungan ibarat
Salah satu bagian kalimat memberikan gambaran perumpamaan (ibarat).
Tujuan pemakaian sarana koherensi adalah agar tercpta susunan dan struktur wacana yang memiliki sifat serasi, runtut, dan logis. Sifat serasi artinya sesuai, cocok, dan harmonis. Runtut artinya urut, sistematis, tidak terputus-putus, tetapi bertautan satu sama lain.